31 Agustus, 2012
Masjid Norderstedt
Masjid Norderstedt
SUMBER : http://www.thenational.ae/news/world/europe/first-mosque-with-electricity-generating-wind-turbines-going-up-in-germany
BERLIN // A Muslim community in northern Germany plans to build what
is believed to be the world’s first mosque equipped with wind turbines
in its minarets to generate electricity.
The design, the brainchild of a local Turkish-born architect, Selcuk
Ünyilmaz, was eagerly accepted by the congregation and has received the
go-ahead from the city council in Norderstedt, a town near Hamburg.
The turbines will be placed inside the two 22-metre-high minarets and
driven by vertically arranged fins rather than the conventional
windmill-style rotor blades.
They will be visible from outside the building and the blades will be
made of glass to create patterns of light and shade. The aim is for the
turbines to provide 30 per cent of the mosque’s energy needs and to
recoup their cost within 10 years.
“The function of the minaret in the classic sense is receding in
Europe because the muezzins don’t climb them to call to prayers,” Mr
Ünyilmaz said. “Even in Islamic countries a microphone is increasingly
used.
“We thought about how we could incorporate this important symbolic
element of religious architecture and provide it with a new function.
Only by using the minarets in this way was I able to reconcile them with
the construction budget. The environment is an important issue at
present, so this made sense. Everyone has a duty to protect the
environment.”
Dr Jameleddine Ben Abdeljelil, an expert on Islam at the University
of Münster in western Germany, said that from a religious point of view,
having a wind turbine in the minaret of a mosque would only be
problematic if the electricity were sold on to a third party for profit.
“If the electricity were used to conduct business and earn a profit,
that would be problematic, but if it is solely intended to help cover
the mosque’s own needs, it should be no problem at all,” Dr Ben
Abdeljelil said.
Construction will not start until the community has raised the money
for the €2.5 million (Dh13.2m) project. No public money will be spent on
the mosque. “We have to cover it all through donations. If we manage to
raise half, the banks would provide the rest of the funding,” Ugur
Sütcü, a member of the congregation’s board, said.
“Everybody here was delighted with the design,” Mr Sütcü said, adding
that there had been no objections to the idea of putting the minarets
to use as power generators. “We want to go ahead with this because our
current mosque is an ordinary-looking 100 year-old-building and people
who pass by don’t recognise it as a mosque.” The community has used the
present location since 1990.
The project is a novel contribution to Germany’s drive towards
renewable power generation, which is being intensified after the
government’s decision last month to phase out all its nuclear power
plants by 2021, much sooner than it had intended.
Angela Merkel, the chancellor, wants to put Germany at the forefront
of the green energy revolution by raising the share of electricity
provided by wind, solar, water and biomass power to 80 per cent by 2050,
from 17 per cent now.
The mosque is also part of a push by Germany’s 4 million Muslim
inhabitants, the majority of them of Turkish descent, to build new
mosques and gain increased recognition for their faith after spending
decades worshipping in ramshackle prayer rooms and converted backstreet
halls.
There are about 200 mosques under construction or being planned in
Germany, more than anywhere else in Europe. Projects often encounter
resistance from residents fearing an “Islamisation” of Germany.
The Norderstedt mosque, however, has been roundly welcomed and drawn
positive reactions from German commentators. “It’s not inconceivable
that on windy days the eco-mosque could – Inshallah – produce more than
it requires for its own purposes,” Die Zeit, a national weekly
newspaper, wrote in a light-hearted editorial this month.
“That’s integration: an environmentally friendly Islam with a
carbon-neutral call to prayers. How can anyone claim this religion
doesn’t belong to Germany?”
Mr Ünyilmaz, the architect, who has lived in Germany for the past 35
years, said the modern design of the mosque reflected the inevitable
integration of Muslims into German society.
“In future everyone will grow together, and in 50 to 100 years it may
be that no one in the community speaks Turkish anymore. But the faith
will remain forever, even after the origins have faded. We already feel
like German Muslims. How will our children and grandchildren feel? It is
for them that I presented this concept.”
——————————————————————————–
REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN – Islam adalah agama yang memuliakan
lingkungan. Tak hanya dengan berceramah saja di mimbar, ulama dan Muslim
di kota kecil Norderstedt, Jerman, menerjemahkannya dalam karya nyata:
masjid ramah lingkungan.
Listrik masjid, dihasilkan dari energi terbarukan; pembangkit listrik
mini bertenaga angin. Menara masjid, selain difungsikan sebagai ‘rumah’
pengeras suara, juga dipasang kincir angin yang tersambung dengan
turbin pembangkit di bawahnya.
“Kami berpikir tentang bagaimana kita bisa menggabungkan elemen
simbolis penting dari arsitektur religius dan memanfaatkannya dengan
fungsi baru,” kata arsitek Selcuk Unyilmaz, seperti dimuat harian The National edisi Kamis.
Norderstedt adalah sebuah kota kecil dekat Hamburg. Muslim di kota
ini sebagian besar beretnik Turki. Beberapa datang dari Asia dan Afrika.
Masjid ini memiliki dua menara. Artinya, akan ada dua turbin yang
terpasang. Di atas dua menara setinggi 22 meter itu, angin ‘ditangkap’
oleh dua baling-baling besar. Turbin ini bertujuan untuk menghasilkan 30
persen dari kebutuhan energi masjid.
“Fungsi menara dalam pengertian klasik sudah surut di Eropa karena
muadzin tidak menyuarak adzan mereka melalui pengeras suara lagi,” kata
Unyilmaz.
Menghemat dana, menara dimanfaatkan sebagai tiang kincir. Kini,
jamaah menikmati listrik dengan gratis, karena tak perlu membayar biaya
langganan.
“Lingkungan merupakan isu penting saat ini, jadi ini masuk akal,” kata Unyilmaz.
Kanselir Jerman Angela Markel telah mengumumkan rencana untuk
meningkatkan pangsa pembangkit listrik terbarukan untuk 80 persen tahun
2050, dari 17 persen yang ada saat ini. “Setiap warga Jerman memiliki
kewajiban untuk melindungi lingkungan, dan menyukseskan program ini”
kata Unyilmaz.
Jerman memiliki 4,3 juta Muslim, sekitar 5 persen dari populasi yang total berjumlah 82 juta jiwa.
Ada sekitar 200 masjid yang saat ini dalam pembangunan atau yang
sedang direncanakan di Jerman.Semua akan dibangun dengan konsep ramah
lingkungan.
Muslim Jerman sekarang tengah mengumpulkan 2,5 juta euro yang
diperlukan untuk pembangunan masjid. “Kita harus menutupi semua melalui
sumbangan,” kata Ugur Sutcu, anggota dewan jemaat. “Jika kita berhasil
menaikkan setengah, bank akan memberikan sisa pendanaan.”
Sutcu mengatakan bahwa masjid baru sangat didukung oleh minoritas
Muslim. “Semua orang di sini senang dengan desain masjid ramah
lingkungan,” katanya.
Masjid Norderstedt kerap dilihat sebagai bukti sukses integrasi
Muslim di Jerman. “Di masa depan setiap orang akan tumbuh bersama, dan
dalam 50 sampai 100 tahun kita telah lebih menjadi komunitas yang
bersatu,” kata Unyilmaz, yang telah tinggal di Jerman selama 35 tahun
terakhir.
—————————————————————————————————————————————
Ketika Mendengar
Ketika mendengar, kita mengetahui apa yang tidak kita ketahui.
Ketika mendengar, kita mengetahui benar dan salah.
Ketika mendengar, kita tahu hati kita akan benar.
Ketika mendengar, kejadian mustahil menjadi mujarab.
Ketika mendengar, kita menghormati semua orang.
Ketika mendengar, kita tidak mempunyai alasan berbuat baik.
Ketika mendengar, sebenarnya kita menghormati diri sendiri.
Ketika mendengar, kita menciptakan suasana yang sejuk.
Ketika mendengar, kita menciptakan dream to happen.
Ketika mendengar, kita sudah menerangkan dunia seperti bintang.
Ketika mendengar, semuanya akan menjadi indah.
Ketika mendengar, kita mengetahui benar dan salah.
Ketika mendengar, kita tahu hati kita akan benar.
Ketika mendengar, kejadian mustahil menjadi mujarab.
Ketika mendengar, kita menghormati semua orang.
Ketika mendengar, kita tidak mempunyai alasan berbuat baik.
Ketika mendengar, sebenarnya kita menghormati diri sendiri.
Ketika mendengar, kita menciptakan suasana yang sejuk.
Ketika mendengar, kita menciptakan dream to happen.
Ketika mendengar, kita sudah menerangkan dunia seperti bintang.
Ketika mendengar, semuanya akan menjadi indah.
Ied Mubarak, 19 August th 2012
Beginilah sibuknya, di saat hari-hari lebaran. Tidak terkecuali para
penghuni di Makassar. Tepatnya yang tidak mempunyai halaman kampung.
Sungguh kasihan. Itulah kami. Saya dan teman-temanku, seharian ini
jalan-jalan. Haha sungguh sunggu melelahkan, tapi menggembirakan. Pagi
ke rumahnya Lily, si ratu kerohanian. Siang at my home, ratu apa yah !
haha. Soreh, ke rumahnya Ayat, Si ratu listening. Mereka, dan Saya
adalah anak Makassar yang lahir di Makassar. Tapi orang tua kami, adalah
di village. Lebaran ini pertama kali jalan-jalan sampai semalaman, haha
biasanya menunggu teman-teman di rumah, yah cukup menjenuhkan. Mau
lihat keseruhan kami? Ini saya, dan mereka hehe :
My Classmates 2011
Kelas Ag 3 dan Ag 4, itulah nama kelasku. Saya bangga berada di kelas
tersebut, karena Saya cukup menjadi diriku sendiri di kelas itu. Mereka
friendly, dan semangatnya tidak pernah luntur. Saya kagum dengan
mereka. We have caracter yang berbeda-beda, tetapi itu membuat kami
semakin kompak. Sehingga Saya pikir, kelas-kelas lain sedikit iri dengan
kelas kami. Tapi terlepas itu, kami memang terlihat kompak, dan
sebenarnya kami memang kompak hihi. Tapi Saya pikir kekompakan kami akan
selalu berkibar di sanubari kami hihi Aamiin.
Ini adalah ceritaku bersama teman-teman pada masa Maba/Mahasiswa Baru
UIN ALAUDDIN 2011 SASTRA INGGRIS MAKASSAR
Nah ini foto kami
![]() |
| Selesai Final :D |
![]() |
Untuk pertamanya, foto bersama,Prof.Dr.H.Azhar Arsyad |
![]() |
| Seminar by Pak Prof. Dr. H. Azhar Arsyad |
![]() |
| With pak Dekan 1 dan 2 Fak Adab dan Humaniora :) |
![]() |
| Setelah Pidato :) |
![]() |
| Spending Night |
![]() |
| Aya, Rahma, Muji, Nilam, Icha, Indi/me :) |
![]() |
| After Donor Darah |
![]() |
| DI KELAS |
![]() |
| IBU DOSEN, SIAP NIH :D |
![]() |
| CIEEE YANG PAKAI BAJU ALMAMATER :) |
![]() |
| ALAY SEDIKIT :D |
![]() |
| CALON MODEL PINGGIR JALAN :D |
![]() |
| INI KAPAN YAH ? HE=IHI |
| GAUL BARENG BULE :D |
![]() |
| THE LAST FIQIH |
| MERAH, Baju Persatuan :D |
Itulah kami. Sebenarnya masih banyak lagi foto-foto kami, tapi berhubung takut kelihatan lebay, Jadi segini saja ya hihi :D . 2012 that's kesimpulan dari, Semester 1 dan 2.
Selanjutnya, tunggu ceritaku di semester 3 yah :)
Terimakasih Sudah Mengunjung :)
30 Agustus, 2012
In Memorian
Bakti Sosial - AG 3 Dan AG 4
Kami disini bukan untuk mencari muka ataupun mencari
belah kasihan, tapi kami mencari ulur tangan yang siap untuk menikmati
indahnya kehidupan. Walaupun 2 hari kami ikut memungut botol plastik,
tapi ini membuat kami semangat untuk melihat dan merasakan kehidupan di
dunia ini. Bakti sosial ini adalah direncanakan sejak dulu, tapi
berhubung dulu, kami sibuk sehingga tidak ada waktu untuk membicarakan.
Nah moment ini, adalah moment tepat ketika kami selesai final semester
1, kami sepakat untuk secepat mengadakan bakti sosial tersebut.
Subhanallah, teman-teman semua setuju dan ikut turun tangan dalam
kegiatan ini. Tepat di kampus kami, ada seorang nenek yang bisa dibilang
hidup dalam sebuah pas-pasan dan di usianya itu dia keliling pagi
hingga soreh memungut botol plastik demi memnuhi kebutuhannya. Kami
mencoba untuk bertanya-tanya mengenai kehidupannya. Dan akhirnya. Kami
bersiap untuk membantuh nenek itu, untuk memungut botol plastik. Inilah
kami J check it out :
Di dekat kantin.
Di belakang Fakultas Adab.
Menuju Rumah Nenek.
Tiba di rumah nenek.
Inilah suasana tempat yang kita kunjungi.
Kami berharap sedikt botol plastik ini, bisa membantu
nenek. Yah Hikmahnya, kita hendaklah bersykur atas apa yang kita dapat,
kita harus melihat dan ikut turun tangan membantu saudara-saudara kita,
dan kegiatan ini mendorong Saya untuk mendekatkan diri pada alam dan
tentunya kekompakan bersama teman-temanku tercinta J Indi
melaporkan/2011. Salam Istimewa.
The First My Story About Him
Mesut Oezil.

The first, I’m only like Germany Country because I thought it’s amazing country. The buiding is bigger, education is very good, althought there are not many muslim religion. But it’s not back my felt about Germany hihi.
I knew Mesut Oezil when I read a magazine. So, I searched online about Mesut Oezil. He didn’t know account, maybe. So, however I always admirer him. Btw this’s some profil about Mesut Oezil. You know ? Mesut Oezil was born 15 October th 1988 in Gelsenkirchen, Jerman Barat . (23 Years old, Turki original) El Buho was called in Spanyol is OWL, he very very young in football player in Germany. He joined in Real Madrid since August th 2010 as “gelandang serang” .
Copy from Wikipedia : ——>
The first, I’m only like Germany Country because I thought it’s amazing country. The buiding is bigger, education is very good, althought there are not many muslim religion. But it’s not back my felt about Germany hihi.
I knew Mesut Oezil when I read a magazine. So, I searched online about Mesut Oezil. He didn’t know account, maybe. So, however I always admirer him. Btw this’s some profil about Mesut Oezil. You know ? Mesut Oezil was born 15 October th 1988 in Gelsenkirchen, Jerman Barat . (23 Years old, Turki original) El Buho was called in Spanyol is OWL, he very very young in football player in Germany. He joined in Real Madrid since August th 2010 as “gelandang serang” .
Copy from Wikipedia : ——>
| Karier senior* | |||
|---|---|---|---|
| Tahun | Tim | Tampil (Gol) | |
| 2006–2007 2008–2010 2010- |
Schalke Werder Bremen Real Madrid |
30 (0) 38 (4) |
|
| Tim nasional‡ | |||
| 2006–2007 2007– 2009– |
Jerman U-19 Jerman U-21 Jerman |
11 (4) 11 (4) 1 (1) |
|
| Karier junior | |||
|---|---|---|---|
| 1995–1998 1998–1999 1999–2000 2000–2005 2005–2006 |
DJK Westfalia 04 Gelsenkirchen DJK Teutonia Schalke-Nord DJK Falke Gelsenkirchen Rot-Weiss Essen Schalke 04 | ||
SIDRAP (SIDENRENG RAPPANG)
Sedikit sejarah tentang SIDRAP ( Sidenreng Rappang )
Mengapa saya menulis mengenai Sidrap? Ini dikarenakan, karena Saya berasal dari Sidrap
Ok ! Sidrap, Sidrap adalah nama kampung yang terletak di Provinsi Sulawesi Selatan, Makassar, Indonesia. Nama dari salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang terkenal sebagai lumbung padi. Juga dikenal sebagai masyarakat yang cara bicaranya kasar dan suaranya yang keras, sampai ada ungkapan yang menyatakan ”Lebbimoi Nacairiyye To Bone, Naiyya Nabicie To Sidenreng”. Artinya, lebih baik dimarahi oleh orang Bone daripada dibisik oleh orang Sidenreng Rappang. Namun pun begitu, bagi orang yang menyalami secara mendalam hati dan karakter masyarakat Sidenreng Rappang pasti akan berkata, ”Naiyya To Sidenreng Rappengnge Garagaji Timunna, Sabbe Atinna.” Artinya, sesungguhnya orang Sidenreng Rappang bibirnya ibarat gergaji namun hatinya selembut sutra. Maknanya, tegas tapi bijaksana, keras budi bahasa tetapi halus budi pekerti.
Sidrap adalah kabupaten yang sarat dengan sejarah. Kabupaten yang memperingati tanggal 18 Februari sebagai hari jadinya ini, ternyata mempunyai sejarah dibalik namanya. Dalam buku lontara’ Mula Ri Timpakenna Tana’e Ri Sidenreng halaman 147, dikisahkan tentang seorang raja bernama Sangalla. Ia adalah seorang raja di Tana Toraja. Anaknya ada 9 : La Maddarammeng, La wewanriru, La Togellipu, La Pasampoi, La Pakolongi, La Pababbari, La Panaungi, La Mampasessu, dan La Mappatunru. Sebagai saudara sulung, La Maddaremmeng selalu menekan dan mengintimidasi kedelapan adik-adiknya, bahkan daerah kerajaan adik-adiknya ia rampas semua. Karena semua adiknya tidak tahan lagi dengan perlakuan kakaknya, mereka pun sepakat meninggalkan Tana Toraja. Karena perjalanan yang melelahkan, mereka kehausan lalu mencari jalan ke tepi genangan air di pinggir danau. Namun, danau itu ternyata berada di hutan yang lebat, sehingga sulit bagi mereka untuk mencapainya. Karena harus menembus semak belukar yang lebat, mereka pun Sirenreng-renreng (saling berpegangan tangan). Sesampainya di sana, mereka minum sepuas-puasnya dan duduk beristirahat kemudian mandi. Setelah itu, mereka berdiskusi bertukar pikiran tentang nasib yang merka jalani. Akhirnya, mereka sepakat untuk bermukim di tempat itu. Di sanalah mereka memulai kehidupan baru untuk bertani, berkebun, menangkap ikan, dan beternak. Semakin hari, pengikut-pengikutnya pun semakin banyak.
Tempat itulah yang kemudian dikenal “Sidenreng“, yang berasal dari kata Sirenreng-renreng mencari jalan ke tepi danau, dan danau itulah yang sekarang dikenal dengan danau Sidenreng. Dari situ, terbentuk kerajaan Sidenreng. Menurut sejarah, Sidenreng Rappang awalnya terdiri dari dua kerajaan, masing-masing Kerajan Sidenreng dan Kerajaan Rappang. Kedua kerajaan ini sangat akrab. Begitu akrabnya, sehingga sulit ditemukan batas pemisah. Bahkan dalam urusan pergantian kursi kerajaan, keduanya dapat saling mengisi. Seringkali pemangku adat Sidenreng justru mengisi kursi kerajaan dengan memilih dari komunitas orang Rappang. Pegitu pula sebaliknya, bila kursi kerajan Rappang kosong, mereka dapat memilih dari kerajaan Sidenreng . Itu pula sebabnya, sulit untuk mencari garis pembeda dari dua kerajaan tersebut. Dialek bahasanya sama, bentuk fisiknya tidak beda, bahasa sehari-harinya juga mirip. Kalaupun ada perbedaan yang menonjol, hanya dari posisi geografisnya saja. Wilayah Rappang menempati posisi sebelah Utara, sedangkan kerajaan Sidenreng berada di bagian Selatan. Kedua kerajaan tersebut masing-masing memiliki sistem pemerintahan sendiri. Di kerajaan Sidenreng kepala pemerintahannya bergelar Addatuang. Pada pemerintahan Addatuang, keputusan berasal dari tiga sumber yaitu, raja, pemangku adab dan rakyat. Sedangkan di Kerajaan Rappang rajanya bergelar Arung Rappang dan menyandarkan sendi pemerintahanya pada aspirasi rakyat. Demokrasi sudah terlaksana pada setiap pengambilan kebijakan.
Monumen Ganggawa di Pangkajene.Demokrasi bagi kerajaan Rappang adalah sesuatu yang sangat penting, salah satu bentuk demokrasinya adalah penolakan diskriminasi gender. Perbedaan gender tidak menjadi masalah, khususnya bagi kaum wanita untuk meniti karir sebagaimana layaknya kaum pria. Buktinya, adalah emansipasi wanita sudah ditunjukkan dengan seorang perempuan yang menjadi rajanya, yaitu raja Dangku, raja kesembilan yang terkenal cerdas, jujur, dan pemberani. Wanita yang kemudian dikenal sukses menjalankan roda pemerintahan di zamannya. Pada saat pengakuan kedaulatan republik Indonesia oleh Belanda tanggal 27 Desember 1949, berakhirlah dinasti Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang. Ketika bumi Indonesia kemudian melepaskan diri dari belenggu penjajah, ketika pekik kemerdekaan menggema di seantero nusantara, kerajaan Sidenreng lebih awal menunjukkan watak nasionalismenya dengan bersedia melepaskan sistem kerajaan mereka. Padahal sistem itu sudah berlangsung lama, sampai 21 kali pergantian pemimpin. Mereka memilih berubah dan menyatu dengan pola ketatanegaraan Indonesia. Kerajaan akhirnya melebur menjadi kabupaten Sidenreng Rappang, dengan bupati pertamanya H. Andi Sapada Mapangile dan untuk pertama kalinya dalam sejarah pemerintahan Sidenreng Rappang dilakukan pemilihan umum untuk memilih bupati secara langsung pada tanggal 29 Oktober 2008 lalu.
Mengapa saya menulis mengenai Sidrap? Ini dikarenakan, karena Saya berasal dari Sidrap
Ok ! Sidrap, Sidrap adalah nama kampung yang terletak di Provinsi Sulawesi Selatan, Makassar, Indonesia. Nama dari salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang terkenal sebagai lumbung padi. Juga dikenal sebagai masyarakat yang cara bicaranya kasar dan suaranya yang keras, sampai ada ungkapan yang menyatakan ”Lebbimoi Nacairiyye To Bone, Naiyya Nabicie To Sidenreng”. Artinya, lebih baik dimarahi oleh orang Bone daripada dibisik oleh orang Sidenreng Rappang. Namun pun begitu, bagi orang yang menyalami secara mendalam hati dan karakter masyarakat Sidenreng Rappang pasti akan berkata, ”Naiyya To Sidenreng Rappengnge Garagaji Timunna, Sabbe Atinna.” Artinya, sesungguhnya orang Sidenreng Rappang bibirnya ibarat gergaji namun hatinya selembut sutra. Maknanya, tegas tapi bijaksana, keras budi bahasa tetapi halus budi pekerti.
Sidrap adalah kabupaten yang sarat dengan sejarah. Kabupaten yang memperingati tanggal 18 Februari sebagai hari jadinya ini, ternyata mempunyai sejarah dibalik namanya. Dalam buku lontara’ Mula Ri Timpakenna Tana’e Ri Sidenreng halaman 147, dikisahkan tentang seorang raja bernama Sangalla. Ia adalah seorang raja di Tana Toraja. Anaknya ada 9 : La Maddarammeng, La wewanriru, La Togellipu, La Pasampoi, La Pakolongi, La Pababbari, La Panaungi, La Mampasessu, dan La Mappatunru. Sebagai saudara sulung, La Maddaremmeng selalu menekan dan mengintimidasi kedelapan adik-adiknya, bahkan daerah kerajaan adik-adiknya ia rampas semua. Karena semua adiknya tidak tahan lagi dengan perlakuan kakaknya, mereka pun sepakat meninggalkan Tana Toraja. Karena perjalanan yang melelahkan, mereka kehausan lalu mencari jalan ke tepi genangan air di pinggir danau. Namun, danau itu ternyata berada di hutan yang lebat, sehingga sulit bagi mereka untuk mencapainya. Karena harus menembus semak belukar yang lebat, mereka pun Sirenreng-renreng (saling berpegangan tangan). Sesampainya di sana, mereka minum sepuas-puasnya dan duduk beristirahat kemudian mandi. Setelah itu, mereka berdiskusi bertukar pikiran tentang nasib yang merka jalani. Akhirnya, mereka sepakat untuk bermukim di tempat itu. Di sanalah mereka memulai kehidupan baru untuk bertani, berkebun, menangkap ikan, dan beternak. Semakin hari, pengikut-pengikutnya pun semakin banyak.
Tempat itulah yang kemudian dikenal “Sidenreng“, yang berasal dari kata Sirenreng-renreng mencari jalan ke tepi danau, dan danau itulah yang sekarang dikenal dengan danau Sidenreng. Dari situ, terbentuk kerajaan Sidenreng. Menurut sejarah, Sidenreng Rappang awalnya terdiri dari dua kerajaan, masing-masing Kerajan Sidenreng dan Kerajaan Rappang. Kedua kerajaan ini sangat akrab. Begitu akrabnya, sehingga sulit ditemukan batas pemisah. Bahkan dalam urusan pergantian kursi kerajaan, keduanya dapat saling mengisi. Seringkali pemangku adat Sidenreng justru mengisi kursi kerajaan dengan memilih dari komunitas orang Rappang. Pegitu pula sebaliknya, bila kursi kerajan Rappang kosong, mereka dapat memilih dari kerajaan Sidenreng . Itu pula sebabnya, sulit untuk mencari garis pembeda dari dua kerajaan tersebut. Dialek bahasanya sama, bentuk fisiknya tidak beda, bahasa sehari-harinya juga mirip. Kalaupun ada perbedaan yang menonjol, hanya dari posisi geografisnya saja. Wilayah Rappang menempati posisi sebelah Utara, sedangkan kerajaan Sidenreng berada di bagian Selatan. Kedua kerajaan tersebut masing-masing memiliki sistem pemerintahan sendiri. Di kerajaan Sidenreng kepala pemerintahannya bergelar Addatuang. Pada pemerintahan Addatuang, keputusan berasal dari tiga sumber yaitu, raja, pemangku adab dan rakyat. Sedangkan di Kerajaan Rappang rajanya bergelar Arung Rappang dan menyandarkan sendi pemerintahanya pada aspirasi rakyat. Demokrasi sudah terlaksana pada setiap pengambilan kebijakan.
Monumen Ganggawa di Pangkajene.Demokrasi bagi kerajaan Rappang adalah sesuatu yang sangat penting, salah satu bentuk demokrasinya adalah penolakan diskriminasi gender. Perbedaan gender tidak menjadi masalah, khususnya bagi kaum wanita untuk meniti karir sebagaimana layaknya kaum pria. Buktinya, adalah emansipasi wanita sudah ditunjukkan dengan seorang perempuan yang menjadi rajanya, yaitu raja Dangku, raja kesembilan yang terkenal cerdas, jujur, dan pemberani. Wanita yang kemudian dikenal sukses menjalankan roda pemerintahan di zamannya. Pada saat pengakuan kedaulatan republik Indonesia oleh Belanda tanggal 27 Desember 1949, berakhirlah dinasti Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang. Ketika bumi Indonesia kemudian melepaskan diri dari belenggu penjajah, ketika pekik kemerdekaan menggema di seantero nusantara, kerajaan Sidenreng lebih awal menunjukkan watak nasionalismenya dengan bersedia melepaskan sistem kerajaan mereka. Padahal sistem itu sudah berlangsung lama, sampai 21 kali pergantian pemimpin. Mereka memilih berubah dan menyatu dengan pola ketatanegaraan Indonesia. Kerajaan akhirnya melebur menjadi kabupaten Sidenreng Rappang, dengan bupati pertamanya H. Andi Sapada Mapangile dan untuk pertama kalinya dalam sejarah pemerintahan Sidenreng Rappang dilakukan pemilihan umum untuk memilih bupati secara langsung pada tanggal 29 Oktober 2008 lalu.
Dia Seperti
Dia seperti memori dari suatu kejadian indahku.
Dia seperti salju di langitku.
Dia seperti bintang langit di lautku.
Yah dia adalah sayapku, sayap dari malaikat.
—
Dia bak mentari, ditengah sinarnya.
Memberikan bara sinar yang menerangkan.
Memancarkan kilauan pada cahayanya.
Menandakan isi hatinya.
—
Ku menanti seperti putri salju snow white, yang menanti rajanya datang menghampiri.
Ku menunggu seperti cinderella, yang menunggu pangerannya datang membawakan sepatu kacanya.
Ku setia seperti barbie, yang setia kepada pasangannya di hari pestanya nanti dengan kuda putihnya.
Kau malaikat dari sayapnya, dia seperti ada di suatu kisahku yang nyata indah.
Langganan:
Komentar (Atom)

















