31 Agustus, 2012

MESUT OEZIL UND JUN DELAY

         
   MESUT OEZIL UND JUN DELAY


Masjid Norderstedt

Masjid Norderstedt
SUMBER : http://www.thenational.ae/news/world/europe/first-mosque-with-electricity-generating-wind-turbines-going-up-in-germany
BERLIN // A Muslim community in northern Germany plans to build what is believed to be the world’s first mosque equipped with wind turbines in its minarets to generate electricity.
The design, the brainchild of a local Turkish-born architect, Selcuk Ünyilmaz, was eagerly accepted by the congregation and has received the go-ahead from the city council in Norderstedt, a town near Hamburg.
The turbines will be placed inside the two 22-metre-high minarets and driven by vertically arranged fins rather than the conventional windmill-style rotor blades.
They will be visible from outside the building and the blades will be made of glass to create patterns of light and shade. The aim is for the turbines to provide 30 per cent of the mosque’s energy needs and to recoup their cost within 10 years.
“The function of the minaret in the classic sense is receding in Europe because the muezzins don’t climb them to call to prayers,” Mr Ünyilmaz said. “Even in Islamic countries a microphone is increasingly used.
“We thought about how we could incorporate this important symbolic element of religious architecture and provide it with a new function. Only by using the minarets in this way was I able to reconcile them with the construction budget. The environment is an important issue at present, so this made sense. Everyone has a duty to protect the environment.”
Dr Jameleddine Ben Abdeljelil, an expert on Islam at the University of Münster in western Germany, said that from a religious point of view, having a wind turbine in the minaret of a mosque would only be problematic if the electricity were sold on to a third party for profit.
“If the electricity were used to conduct business and earn a profit, that would be problematic, but if it is solely intended to help cover the mosque’s own needs, it should be no problem at all,” Dr Ben Abdeljelil said.
Construction will not start until the community has raised the money for the €2.5 million (Dh13.2m) project. No public money will be spent on the mosque. “We have to cover it all through donations. If we manage to raise half, the banks would provide the rest of the funding,” Ugur Sütcü, a member of the congregation’s board, said.
“Everybody here was delighted with the design,” Mr Sütcü said, adding that there had been no objections to the idea of putting the minarets to use as power generators. “We want to go ahead with this because our current mosque is an ordinary-looking 100 year-old-building and people who pass by don’t recognise it as a mosque.” The community has used the present location since 1990.
The project is a novel contribution to Germany’s drive towards renewable power generation, which is being intensified after the government’s decision last month to phase out all its nuclear power plants by 2021, much sooner than it had intended.
Angela Merkel, the chancellor, wants to put Germany at the forefront of the green energy revolution by raising the share of electricity provided by wind, solar, water and biomass power to 80 per cent by 2050, from 17 per cent now.
The mosque is also part of a push by Germany’s 4 million Muslim inhabitants, the majority of them of Turkish descent, to build new mosques and gain increased recognition for their faith after spending decades worshipping in ramshackle prayer rooms and converted backstreet halls.
There are about 200 mosques under construction or being planned in Germany, more than anywhere else in Europe. Projects often encounter resistance from residents fearing an “Islamisation” of Germany.
The Norderstedt mosque, however, has been roundly welcomed and drawn positive reactions from German commentators. “It’s not inconceivable that on windy days the eco-mosque could – Inshallah – produce more than it requires for its own purposes,” Die Zeit, a national weekly newspaper, wrote in a light-hearted editorial this month.
“That’s integration: an environmentally friendly Islam with a carbon-neutral call to prayers. How can anyone claim this religion doesn’t belong to Germany?”
Mr Ünyilmaz, the architect, who has lived in Germany for the past 35 years, said the modern design of the mosque reflected the inevitable integration of Muslims into German society.
“In future everyone will grow together, and in 50 to 100 years it may be that no one in the community speaks Turkish anymore. But the faith will remain forever, even after the origins have faded. We already feel like German Muslims. How will our children and grandchildren feel? It is for them that I presented this concept.”
——————————————————————————–
REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN – Islam adalah agama yang memuliakan lingkungan. Tak hanya dengan berceramah saja di mimbar, ulama dan Muslim di kota kecil Norderstedt, Jerman, menerjemahkannya dalam karya nyata: masjid ramah lingkungan.
Listrik masjid, dihasilkan dari energi terbarukan; pembangkit listrik mini bertenaga angin. Menara masjid, selain difungsikan sebagai ‘rumah’ pengeras suara, juga dipasang kincir angin yang tersambung dengan turbin pembangkit di bawahnya.
“Kami berpikir tentang bagaimana kita bisa menggabungkan elemen simbolis penting dari arsitektur religius dan memanfaatkannya dengan fungsi baru,” kata arsitek Selcuk Unyilmaz, seperti dimuat harian The National edisi Kamis.
Norderstedt adalah sebuah kota kecil dekat Hamburg. Muslim di kota ini sebagian besar beretnik Turki. Beberapa datang dari Asia dan Afrika.
Masjid ini memiliki dua menara. Artinya, akan ada dua turbin yang terpasang. Di atas dua menara setinggi 22 meter itu, angin ‘ditangkap’ oleh dua baling-baling besar. Turbin ini bertujuan untuk menghasilkan 30 persen dari kebutuhan energi masjid.
“Fungsi menara dalam pengertian klasik sudah surut di Eropa karena muadzin tidak menyuarak adzan mereka melalui pengeras suara lagi,”  kata Unyilmaz.
Menghemat dana, menara dimanfaatkan sebagai tiang kincir. Kini, jamaah menikmati listrik dengan gratis, karena tak perlu membayar biaya langganan.
“Lingkungan merupakan isu penting saat ini, jadi ini masuk akal,” kata Unyilmaz.
Kanselir Jerman Angela Markel telah mengumumkan rencana untuk meningkatkan pangsa pembangkit listrik terbarukan untuk 80 persen tahun 2050, dari 17 persen yang ada saat ini. “Setiap warga Jerman memiliki kewajiban untuk melindungi lingkungan, dan menyukseskan program ini” kata Unyilmaz.
Jerman memiliki  4,3 juta Muslim,  sekitar 5 persen dari populasi yang total berjumlah 82 juta jiwa.
Ada sekitar 200 masjid yang saat ini dalam pembangunan atau yang sedang direncanakan di Jerman.Semua akan dibangun dengan konsep ramah lingkungan.
Muslim Jerman sekarang tengah mengumpulkan 2,5 juta euro yang diperlukan untuk pembangunan masjid. “Kita harus menutupi semua melalui sumbangan,” kata Ugur Sutcu, anggota dewan jemaat. “Jika kita berhasil menaikkan setengah, bank akan memberikan sisa pendanaan.”
Sutcu mengatakan bahwa masjid baru sangat didukung oleh minoritas Muslim. “Semua orang di sini senang dengan desain masjid ramah lingkungan,” katanya.
Masjid Norderstedt kerap dilihat sebagai bukti sukses integrasi Muslim di Jerman. “Di masa depan setiap orang akan tumbuh bersama, dan dalam 50 sampai 100 tahun kita telah lebih menjadi komunitas yang bersatu,” kata Unyilmaz, yang telah tinggal di Jerman selama 35 tahun terakhir.
—————————————————————————————————————————————

Ketika Mendengar

Ketika mendengar, kita mengetahui apa yang tidak kita ketahui.
Ketika mendengar, kita mengetahui benar dan salah.
Ketika mendengar, kita tahu hati kita akan benar.
Ketika mendengar, kejadian mustahil menjadi mujarab.
Ketika mendengar, kita menghormati semua orang.
Ketika mendengar, kita tidak mempunyai alasan berbuat baik.
Ketika mendengar, sebenarnya kita menghormati diri sendiri.
Ketika mendengar, kita menciptakan suasana yang sejuk.
Ketika mendengar, kita menciptakan dream to happen.
Ketika mendengar, kita sudah menerangkan dunia seperti bintang.
Ketika mendengar, semuanya akan menjadi indah.

Ied Mubarak, 19 August th 2012


Beginilah sibuknya, di saat hari-hari lebaran. Tidak terkecuali para penghuni di Makassar. Tepatnya yang tidak mempunyai halaman kampung. Sungguh kasihan. Itulah kami. Saya dan teman-temanku, seharian ini jalan-jalan. Haha sungguh sunggu melelahkan, tapi menggembirakan. Pagi ke rumahnya Lily, si ratu kerohanian. Siang at my home, ratu apa yah ! haha. Soreh, ke rumahnya Ayat, Si ratu listening. Mereka, dan Saya adalah anak Makassar yang lahir di Makassar. Tapi orang tua kami, adalah di village. Lebaran ini pertama kali jalan-jalan sampai semalaman, haha biasanya menunggu teman-teman di rumah, yah cukup menjenuhkan. Mau lihat keseruhan kami? Ini saya, dan mereka hehe :

My Classmates 2011

Kelas Ag 3 dan Ag 4, itulah nama kelasku. Saya bangga berada di kelas tersebut, karena Saya cukup menjadi diriku sendiri di kelas itu. Mereka friendly, dan semangatnya tidak pernah luntur. Saya kagum dengan mereka. We have caracter yang berbeda-beda, tetapi itu membuat kami semakin kompak. Sehingga Saya pikir, kelas-kelas lain sedikit iri dengan kelas kami. Tapi terlepas itu, kami memang terlihat kompak, dan sebenarnya kami memang kompak hihi. Tapi Saya pikir kekompakan kami akan selalu berkibar di sanubari kami hihi Aamiin.
Ini adalah ceritaku bersama teman-teman pada masa Maba/Mahasiswa Baru
UIN ALAUDDIN 2011 SASTRA INGGRIS MAKASSAR

Nah ini foto kami

Selesai Final :D
Untuk pertamanya, foto bersama,

 Prof.Dr.H.Azhar Arsyad

Seminar by Pak Prof. Dr. H. Azhar Arsyad

With pak Dekan 1 dan 2 Fak Adab dan Humaniora :)

Setelah Pidato :)

Seminar Beasiswa Belanda-Kanada :)


Spending Night



Aya, Rahma, Muji, Nilam, Icha, Indi/me :)

After Donor Darah


DI KELAS
IBU DOSEN, SIAP NIH :D
CIEEE YANG PAKAI BAJU ALMAMATER :)
ALAY SEDIKIT :D




CALON MODEL PINGGIR JALAN :D

INI KAPAN YAH ? HE=IHI
GAUL BARENG BULE :D
THE LAST FIQIH
MERAH, Baju Persatuan :D







Itulah kami. Sebenarnya masih banyak lagi foto-foto kami, tapi berhubung takut kelihatan lebay, Jadi segini saja ya hihi :D . 2012 that's kesimpulan dari, Semester 1 dan 2. 
Selanjutnya, tunggu ceritaku di semester 3 yah :)
Terimakasih Sudah Mengunjung :)

30 Agustus, 2012

In Memorian

Bakti Sosial -  AG 3 Dan AG 4
Kami disini bukan untuk mencari muka ataupun mencari belah kasihan, tapi kami mencari ulur tangan yang siap untuk menikmati indahnya kehidupan. Walaupun 2 hari kami ikut memungut botol plastik, tapi ini membuat kami semangat untuk melihat dan merasakan kehidupan di dunia ini. Bakti sosial ini adalah direncanakan sejak dulu, tapi berhubung dulu, kami sibuk sehingga tidak ada waktu untuk membicarakan. Nah moment ini, adalah moment tepat ketika kami selesai final semester 1, kami sepakat untuk secepat mengadakan bakti sosial tersebut. Subhanallah, teman-teman semua setuju dan ikut turun tangan dalam kegiatan ini. Tepat di kampus kami, ada seorang nenek yang bisa dibilang hidup dalam sebuah pas-pasan dan di usianya itu dia keliling pagi hingga soreh memungut botol plastik demi memnuhi kebutuhannya. Kami mencoba untuk bertanya-tanya mengenai kehidupannya. Dan akhirnya. Kami bersiap untuk membantuh nenek itu, untuk memungut botol plastik. Inilah kami J check it out :
AG3 DAN AG4 DALAM BAKTI SOSIAL 2011

 Di dekat kantin.
 Di belakang Fakultas Adab.
Menuju Rumah Nenek.
Tiba di rumah nenek.
 
Inilah suasana tempat yang kita kunjungi.
Kami berharap sedikt botol plastik ini, bisa membantu nenek. Yah Hikmahnya, kita hendaklah bersykur atas apa yang kita dapat, kita harus melihat dan ikut turun tangan membantu saudara-saudara kita, dan kegiatan ini mendorong Saya untuk mendekatkan diri pada alam dan tentunya kekompakan bersama teman-temanku tercinta J Indi melaporkan/2011. Salam Istimewa.

The First My Story About Him

Mesut Oezil.

The first, I’m only like Germany Country because I thought it’s amazing country. The buiding is bigger, education is very good, althought there are not many muslim religion. But it’s not back my felt about Germany hihi.
I knew Mesut Oezil when I read a magazine. So, I searched online about Mesut Oezil. He didn’t know account, maybe. So, however I always admirer him. Btw this’s some profil about Mesut Oezil. You know ? Mesut Oezil was born 15 October th 1988 in Gelsenkirchen, Jerman Barat . (23 Years old, Turki original) El Buho was called in Spanyol is OWL, he very very young in football player in Germany. He joined in Real Madrid since August th 2010 as “gelandang serang” .
Copy from Wikipedia : ——>
Karier senior*
Tahun Tim Tampil (Gol)
2006–2007
2008–2010
2010-
Schalke
Werder Bremen
Real Madrid
30 (0)
38 (4)

Tim nasional
2006–2007
2007–
2009–
Jerman U-19
Jerman U-21
Jerman
11 (4)
11 (4)
1 (1)
Karier junior
1995–1998
1998–1999
1999–2000
2000–2005
2005–2006
DJK Westfalia 04 Gelsenkirchen
DJK Teutonia Schalke-Nord
DJK Falke Gelsenkirchen
Rot-Weiss Essen
Schalke 04

SIDRAP (SIDENRENG RAPPANG)

Sedikit sejarah tentang SIDRAP ( Sidenreng Rappang )
Mengapa saya menulis mengenai Sidrap? Ini dikarenakan, karena Saya berasal dari Sidrap :D
Ok ! Sidrap, Sidrap adalah nama kampung yang terletak di Provinsi Sulawesi Selatan, Makassar, Indonesia. Nama dari salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang terkenal sebagai lumbung padi. Juga dikenal sebagai masyarakat yang cara bicaranya kasar dan suaranya yang keras, sampai ada ungkapan yang menyatakan ”Lebbimoi Nacairiyye To Bone, Naiyya Nabicie To Sidenreng”. Artinya, lebih baik dimarahi oleh orang Bone daripada dibisik oleh orang Sidenreng Rappang. Namun pun begitu, bagi orang yang menyalami secara mendalam hati dan karakter masyarakat Sidenreng Rappang pasti akan berkata, ”Naiyya To Sidenreng Rappengnge Garagaji Timunna, Sabbe Atinna.” Artinya, sesungguhnya orang Sidenreng Rappang bibirnya ibarat gergaji namun hatinya selembut sutra. Maknanya, tegas tapi bijaksana, keras budi bahasa tetapi halus budi pekerti.
Sidrap adalah kabupaten yang sarat dengan sejarah. Kabupaten yang memperingati tanggal 18 Februari sebagai hari jadinya ini, ternyata mempunyai sejarah dibalik namanya. Dalam buku lontara’ Mula Ri Timpakenna Tana’e Ri Sidenreng halaman 147, dikisahkan tentang seorang raja bernama Sangalla. Ia adalah seorang raja di Tana Toraja. Anaknya ada 9 : La Maddarammeng, La wewanriru, La Togellipu, La Pasampoi, La Pakolongi, La Pababbari, La Panaungi, La Mampasessu, dan La Mappatunru. Sebagai saudara sulung, La Maddaremmeng selalu menekan dan mengintimidasi kedelapan adik-adiknya, bahkan daerah kerajaan adik-adiknya ia rampas semua. Karena semua adiknya tidak tahan lagi dengan perlakuan kakaknya, mereka pun sepakat meninggalkan Tana Toraja. Karena perjalanan yang melelahkan, mereka kehausan lalu mencari jalan ke tepi genangan air di pinggir danau. Namun, danau itu ternyata berada di hutan yang lebat, sehingga sulit bagi mereka untuk mencapainya. Karena harus menembus semak belukar yang lebat, mereka pun Sirenreng-renreng (saling berpegangan tangan). Sesampainya di sana, mereka minum sepuas-puasnya dan duduk beristirahat kemudian mandi. Setelah itu, mereka berdiskusi bertukar pikiran tentang nasib yang merka jalani. Akhirnya, mereka sepakat untuk bermukim di tempat itu. Di sanalah mereka memulai kehidupan baru untuk bertani, berkebun, menangkap ikan, dan beternak. Semakin hari, pengikut-pengikutnya pun semakin banyak.
Tempat itulah yang kemudian dikenal “Sidenreng“, yang berasal dari kata Sirenreng-renreng mencari jalan ke tepi danau, dan danau itulah yang sekarang dikenal dengan danau Sidenreng. Dari situ, terbentuk kerajaan Sidenreng. Menurut sejarah, Sidenreng Rappang awalnya terdiri dari dua kerajaan, masing-masing Kerajan Sidenreng dan Kerajaan Rappang. Kedua kerajaan ini sangat akrab. Begitu akrabnya, sehingga sulit ditemukan batas pemisah. Bahkan dalam urusan pergantian kursi kerajaan, keduanya dapat saling mengisi. Seringkali pemangku adat Sidenreng justru mengisi kursi kerajaan dengan memilih dari komunitas orang Rappang. Pegitu pula sebaliknya, bila kursi kerajan Rappang kosong, mereka dapat memilih dari kerajaan Sidenreng . Itu pula sebabnya, sulit untuk mencari garis pembeda dari dua kerajaan tersebut. Dialek bahasanya sama, bentuk fisiknya tidak beda, bahasa sehari-harinya juga mirip. Kalaupun ada perbedaan yang menonjol, hanya dari posisi geografisnya saja. Wilayah Rappang menempati posisi sebelah Utara, sedangkan kerajaan Sidenreng berada di bagian Selatan. Kedua kerajaan tersebut masing-masing memiliki sistem pemerintahan sendiri. Di kerajaan Sidenreng kepala pemerintahannya bergelar Addatuang. Pada pemerintahan Addatuang, keputusan berasal dari tiga sumber yaitu, raja, pemangku adab dan rakyat. Sedangkan di Kerajaan Rappang rajanya bergelar Arung Rappang dan menyandarkan sendi pemerintahanya pada aspirasi rakyat. Demokrasi sudah terlaksana pada setiap pengambilan kebijakan.
Monumen Ganggawa di Pangkajene.Demokrasi bagi kerajaan Rappang adalah sesuatu yang sangat penting, salah satu bentuk demokrasinya adalah penolakan diskriminasi gender. Perbedaan gender tidak menjadi masalah, khususnya bagi kaum wanita untuk meniti karir sebagaimana layaknya kaum pria. Buktinya, adalah emansipasi wanita sudah ditunjukkan dengan seorang perempuan yang menjadi rajanya, yaitu raja Dangku, raja kesembilan yang terkenal cerdas, jujur, dan pemberani. Wanita yang kemudian dikenal sukses menjalankan roda pemerintahan di zamannya. Pada saat pengakuan kedaulatan republik Indonesia oleh Belanda tanggal 27 Desember 1949, berakhirlah dinasti Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang. Ketika bumi Indonesia kemudian melepaskan diri dari belenggu penjajah, ketika pekik kemerdekaan menggema di seantero nusantara, kerajaan Sidenreng lebih awal menunjukkan watak nasionalismenya dengan bersedia melepaskan sistem kerajaan mereka. Padahal sistem itu sudah berlangsung lama, sampai 21 kali pergantian pemimpin. Mereka memilih berubah dan menyatu dengan pola ketatanegaraan Indonesia. Kerajaan akhirnya melebur menjadi kabupaten Sidenreng Rappang, dengan bupati pertamanya H. Andi Sapada Mapangile dan untuk pertama kalinya dalam sejarah pemerintahan Sidenreng Rappang dilakukan pemilihan umum untuk memilih bupati secara langsung pada tanggal 29 Oktober 2008 lalu.

Dia Seperti

Dia seperti memori dari suatu kejadian indahku.
Dia seperti salju di langitku.
Dia seperti bintang langit di lautku.
Yah dia adalah sayapku, sayap dari malaikat.
Dia bak mentari, ditengah sinarnya.
Memberikan bara sinar yang menerangkan.
Memancarkan kilauan pada cahayanya.
Menandakan isi hatinya.
Ku menanti seperti putri salju snow white, yang menanti rajanya datang menghampiri.
Ku menunggu seperti cinderella, yang menunggu pangerannya datang membawakan sepatu kacanya.
Ku setia seperti barbie, yang setia kepada pasangannya di hari pestanya nanti dengan kuda putihnya.
Kau malaikat dari sayapnya, dia seperti ada di suatu kisahku yang nyata indah.

Lady Antebellum (1 tracks) by iindiinriani - MixPod

Lady Antebellum (1 tracks) by iindiinriani - MixPod
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...